Saya sangat pernah menjadi pedagang kecil di saat kelas 3
SLTP. Saya membantu seikit untuk menjual kerupuk dan permen jahe untuk menambah
keuangan keluarga. Bukan, bukan seperti yang dipikirkan oran orang bahwa saya
sudah berada pada kondisienak. Saat itu
saya bisa menghasilkan duit 60ribu untuk zaman saya SLTP. Dan itu nilainya
memang tidak banyak, tapi pada zaman saya paling tidak bisa membantu
mempertahankan dapur mama saya tetap mengepul.
Alasan saya membantu tidak lain
tidak bukan karena kondisi keuangan orangtua yang saat itu sangat seret. Bukan
PNS Guru zaman now yang berlimpah ruah dengan sertifikasi. TIdak, mama saya
saat itupun masih memiliki gaji ratusan ribu rupiah. Ayah saya? Tidak perlu
ditanyakan keuangannya, dosen swasta akan sangat sulit bergerak kemanapun.
Saya pernah di kondisi sulit.
Dibelikan baju celana, dan bahkan saat itu pernah memakai celana dalam bekas
(monja sebutan saat itu). Saya sangat pernah makan lauknya sayurnya sangat amat
terbatas DAN BAHKAN terkesan DIJATAH atau bahkan DIPANASIN LAGI – sampaisampai saya melihat mama saya tidak ingin
makan lauk dan sayur dengan alasan sudah kenyang mencicipi saat masak. Saya
pernah memakai celana sekolah yang saat itu hanya bisa dikancing peniti. Memakai
karet untuk kaus kaki yang sudah melar karena dipakai dari turun temurun. Bahkan,
daging saat itu menjadi seakan hal yang sangat dinanti nanti apalagi ketika ada
pesta undangan dari sanak saudara dan lainnya.
Siapa bilang saya tidak pernah di
ekonomi susah. Justru saya tahu rasanya kekurangan makanya saya berusaha
sekitar saya jangan sampai tidak layak (meskipun tangan saya masih terbatas
membantu).
Judul ini adalah judul untuk
mengatakan bahwasanya saya masih takjub dan bertanya Tanya.
Akhir April saya berkesempatan
untuk pergi ke salah satu kebun miliki perkebunan Negara. Kegiatan saya di sana
adalah untuk melakukan kegiatan seleksi dengan menggunakan wawancara.
Sebenarnya ini bukan hal yang
baru bagi saya namun ketika langsung datang ke situs lapangan perkebunan dan
kemudian bicaa langsung serta mengikuti semua cerita dunia para Buruh Harian
Lepas yang menggantungkan nasibnya pada keputusan wawancara, maka saya
mengatakan ini terkesan TAKJUB.
Di luar jangkauan pikiran saya,
itulah kalimat yang ingin saya utarakan. Sangat diluar kemampuan pola pikir
saya. Tapi entah apa yang akan saya katakan dalam tulisan ini bisa tergambar
atau tidak.
Apakah itu?
Saya mewawancarain langsung kisah
hidup anak anak usia 17 Tahun sudah menikah, sudah memiliki keturunan dari
pernikahan yang legal (bukan kecelakaan). Arah hidup mereka, mengapa mereka
memilih untuk menikah pada usia yang muda dan terkesan belum matang baik secara
emosi dan ekonomi (setidaknya pada persepsi umum yang saya miliki). Begini, ya
beginilah realitanya. Saya terbiasa mendengar dan melihat dari video
dokumentasi pada salah satu channel televisi. Tapi ini live, langsung saya
hadapin, meskipun dalam situasi melakukan seleksi terhadap mereka.
Alasan alasan yang saya himpun
adalah banyak dari mereka memang tidak memiliki pemikiran yang kompleks
selayaknya orang kota dalam menjalani hidup.
Contoh saja, untuk pacaran ga
perlu ini itu, bukan mengatakan mereka orang kampungan, TIDAK, justru mereka
update dengan hal hal yang terbaru.
Mereka tidak memerlukan sesuatu
yang wah untuk menghidupi dirinya. Bahkan pada umumnya mereka rela bekerja
dibawah tekanan fisik dan emosional untuk mendapatkan uang hanya sebesar 20rb
sampai dengan 50 rb per hari dan belum tentu setiap harinya ada pekerjaan.
Mereka tidak memerlukan gadget
terbaru, pakaian yang mewah, dan terkesan hanya menggunakan diri mereka untuk
bersosialisasi.
Dan
Saya takjub menemukan ada yang menikah
dan si pengantin pria dengan berani melaamar tanpa ada pekerjaan yang tetap,
penghasilan yang lumayan. Saya takjub mereka bisa menghidupi dirinya dengan
kasaran maksimal 1 – 1.5 juta per bulannya dan itupun untuk kebutuhan 1
keluarga yang berisi minimal 2 orang dewasa dan seorang anak bayi. (Disini otak
saya berputar. Sangat berputar)
Sehabis kegiatan seleksi tersebut
saya diskusi dengan kepala project yang mengajak saya. DIa hanya mengatakan. Ya
disini begini dan bagi mereka hidup mereka dari kebun ya kembali ke kebun.
Tidak jarang dari mereka dan orangutan mereka menanamkan hal yang sama untuk
tidak terlalu berpikir macam2. Untuk tetap di daerah yang jauh dari kota dan
tetap berkebun, bekerja sama orang lain/perusahaan perkebunan, asalkan beras
dan garam masih ada di rumah.
Satu sisi otak saya diputar putar
mengingat saya sendiri dengan segala kondisi saya yang notabene lebih dan jauh
beruntung dari mereka. Satu sisi melihat bahwa ternyata ga perlu ribet untuk
memenuhi kebutuhan hidup ini. Asal ada keluarga, asal ada pemenuhan hidup
sederhana ya sudah selesai.
Namun profesi saya menuntut untuk
mengembangkan orang lain, untuk membuat setiap orang mencapai potensi maksimal
yang ia miliki. Saya merasa ternyata profesi saya pun masih jauh dari kata
berhasil. Apalagi kedua tangan saya ini yang pada akhirnya beberapa diantara
mereka harus di gugurkan dalam proses seleksi.
Satu lagi otak saya berpikir, apa
iya ya, mereka tidak terjamah dengan pendidikan yang sebenar benarnya. Yang ada
hanyalah doktrin doktrin untuk menerima keadaan, untuk cepat berpuas diri,
menganggap bahwa kebersyukuran hanya sebatas terima apa yang ada tanpa
memikirkan ada harapan untuk lebih baik tanpa memilirkan bahwa ketika masih
memiliki harapan untuk lebih itupun termasuk salah satu syarat untuk
bersyukur?.
Sumpah, kondisi real ini membuat
saya pening. Sepening saya memikirkan masalah saya yang terkesan sepele saat
saya menulis ataupun mengetik ini.
Tapi tangan, kesehatan, waktu dan kegiatan belum memungkinkan.
Ada
banyak kebahagiaan menurut saya, meski seperti katanya roda pedati yang
berputar pasti ada momen yang bisa dikatakan belum bahagia atau tidak
bahagia.
Saya pada dasarnya penyuka optimisme meski saya punya bi-polar penikmat pesimisme setelah sekian rasa optimis tidak berbuah.
Akhir 2016 ini saya ingin sekali mengucapkan,
Begitu banyak momen dengan 2015 terutama ke beberapa adik mahasiswa yang telah lebih dekat.
Saya
sampai saat ini berusaha menyadarkan kita semua bahwa kita di masa yang
penuh ketidakpastian sehingga terkadang kita seakan akan hanya
menyelamatkan diri sendiri.
Cobalah
lihat skitar, berita media yang semakin membuat kita seakan akan takut,
sehingga kita hanya menyiapkan jalan untuk diri sendiri.
Cobalah
sadari Media sosial dipergunakan untuk hal hal kesenangan semata dan
lihatlah animo animo yang gampang mempengaruhi kita (saya juga ikutan
kok), apakah salah? Tidak hanya frekuensi dan tujuan akhir yang perlu
kita tinjau kembali
Cobalah sadari Media sosial kita pakai sekedar like, share... No comment at all ( banyak menjadi silent reader)
DAN
BAHKAN, lihatlah sifat kolektivis kita sebagai orang asia, sudah mulai
pudar. Saya share sesuka hati sepuas hati selama ini akun hak milikku.
Yang paling ketara jika saya atau anda punya masalah, saya langsung
tidak seperti biasa... tidak jadi like, tidak menghiraukan kembali dll..
Lihatlah
ketika anda mungkin saya juga hanya sekedar aja bertutur sapa ketika
hampir dikatakan "saat ada perlu" namun di sosial media seakan wah rame
beud.. Kita kehilangan interaksi sesungguhnya seakan sosial media menguasai
CONTOH PALING REAL YANG SAYA LIHAT
ketika tugas kelompok.
Bagianmu bagianmu, bagianku bagianku.
Kita berada di masa, tampaknya kita semakin egois.
Kita punya teknologi sendiri sendiri
dimana informasi bisa kita cari sendiri demi kepentingan sendiri yang
nota bene di rasionalisasi "daripada ngerepotin orang lain" , "lebih
baik mengurus diri sendiri daripada orang lain"
Kita seperti berada di masa kita tahu hal yang baik, namun kita lebih tergerak untuk tidak peduli, tak tahu atau merasa enggan untuk melakukan hal yang baik dengan dalih bermacam macam.
Apa
yang membuat saya selalu berusaha membangun 2015? Bukan karena saya
mengambil tanggung jawab tuk jadi wali, tapi saya takut generasi saya
dan anda terbiasa dengan ketidakpedulian.
Saya bukan orang hebat, bukan motivator dan bukan siapa siapa.
Saya
hanya merasa perlu menyampaikan semua hal hal diatas karena saya
manusia yang masih perlu kemanusiaan yaitu kepedulian untuk sesama.
Saya berikan kalimat pertanyaan untuk kita semua.
Kita masih mau hidup dan terbiasa untuk semua ketidakpedulian ini?
Hari ini dibuka dengan membuka video lucu dari line, memori kenangan FB yang membuat tersenyum dan lainnya yang membuat diri ini akhirnya tersenyum lebar.
Hari ini memberanikan diri untuk lari pagi lagi semenjak yaaaah ber abad hari hari lah ahahahaha
biasanya lari sore (oops lari? yang ada dipaksa jogging sama salah satu adek psikologi nommensen 2015, ditarik tarik setelah 2 putaran hahahaha)
Lari Pagi terlaksana, badan terasa segar meski berkeringat, kemudian merencanaka untuk mengurus bagian dari persyaratan passpor yaitu mengubah KK menjadi KK biru. Makan, siap siap data, mandi lalu capcus ke kantor lurah, mejeng dari jam 09:30-10:00, akhirnya terlewati sampai jam 10:20 (yes no pungli, dan urusan lancar), lanjut mengendarai motor ke rumah tuk ambil fotocopy ijazah, lalu ke kantor camat, dan hanya 15 menit berada disana,(yes no pungli, dan urusan lancar untuk kedua kali).
oke jam 11:15 lanjut ke kanor dinas kependudukan, mengendarai motor semacam finalis moto gp. sampe jam 11:40 (yes no antrian di ambe dan meski lancar untuk menunggu sampai jam 13:40, makan dulu deh).
Kemudian disinilah cerita yang senyum itu seakan kembali meredup. Saya dipanggil sesuai dengan urutan dan kemudian di panggil untuk arahan ditengah sumpeknya manusia yang menutupi loket (apalah salahnya menunggu jauh jauh dari loket kan masyaraakat ini, padahal speaker pun adanya.)
Akhirnya saya diberitahu, KK tidak bisa diurus karena pada tanggal 13 bulan oktober saya sudah dipindahkan ke daerah asal (kepala seakan pecah, belum lagi saat nanya nanya bagaimana memperbaikinya eeehhh si bapak malah pake microphone tuk jelasan, saya kan malu atas kesalahan yang sama sekali tidak saya lakukan.. saya korban atas ketidak tahuan saya dipindahkan dari medan ke pematang siantar). Kemudian saya melakukan komunikasi dengan orangtua saya dan terjawablah sudah pegawai Dinas kepndudukan pematang siantar tidak melaksanakan sesuai permohonan orangtua saya ahahahahahahhaha.
saya - pun komunikasi ke bebrapa adik psikologi, ngajak renang (kebiasaan saya pelampiasan pada hal hal olahraga ,jogging udah ya makanya renang, kalau makan, eh lagi bokek keuangan hedon belum terisi ahahhahah). Akhirnyapun berenang dari jam 16:10 - 18:30 semuanya terpuaskan bersama hendro cucu sigale gale, dwi putra si buyut 3 giga dan si kakek cornel (nama nama ini aneh dan muncul bertambah seiring waktu...entahlah, hahahaha).
ngalor ngidul di sela berenang, dan kemudian makan dan akhirnya saya harus menjemput adik yang sejak dari siang merasakan kurrang enak badan. saya meminta kawanan 3 pejantan tangguh setengah ini (segi umur masih 20, saya mah 30 berasa sok tangguh hahai), untuk menemani ke pool damri, namun damri pun habis lalu kami pergi ke stasiun kereta (dalam pikiran, haduuuh mahal yaaaa... tapi demi adek semata wayang keluarga sendiri, bisalaah). saya menitip motor sama dwi si buyut 3 giga akhirnya saya pun pergi ke airport menjemput adek, yang memang dari wajah dan postur engga banget, sigap cepat memeluk karen rasa rindu, dan untunglah ada mas gocar di stasiun parkir Airport KNO, dengan Go Pay (ga promo) lebih murah hahahaha.. AKhirnya sampailah di rumah medan.
Adek semata wayangpun meminta untuk diminyakin (walah ini perlu pergi lagi karena minyak uda habis). hehe. mengambil motor dan pergi lalu setelah mendapatkan minyak kayu putih, diminyakin deh adek semata wayang itu. haha. Puas aja bisa nengok adek sendiri tidur meski belum terlelap amat.
Perjalanan hari ini memang naik turun. Senyum, Stress, Katarsis have fun lalu kembali serius dan senyum puas lagi. Up and Down ya.
Mungkin bukan dengan gambaran gimana banget, namun saya rasa hari ini gambaran kiasan roda pedati itu bisa seperti kejadian hari ini. Semoga saja semuanya indah pada waktuNYA.\
Ini kisahnya baper banget ya..
dari kemarin baper dan semacam mendapatkan peran teraniaya, seakan akan hidup
ga mulus saja hahaha
Tulisan ini adalah kisah saya
sesungguhnya saat mengalami 24 – 25 Desember 2016.
Pada malam 24 Desember saya
mengikuti acara malam natal. Saya melihat beberapa orang yang coba saya
hindari, dalam arti sebenarnya saya ga perlu hindari, karena saya ga ada
melakukan apapun yang salah. Hanya ego saya yang tinggi untuk belum menerima
permintaan maaf dari orang orang yang menurut saya, menurut orang lain pun
patut meminta maaf pada saya.
Sampai pada suatu saat, acara
malam natal dilanjutkan dengan perjamuan kudus (hal sacral kristiani yang
dilakukan Yesus untuk murid-muridnya sebelum diserahkan untuk disalibkan).
Sebelum perjamuan tersebut, saya merasa nyesak. Terdapat perkataan- perkataan
yang mengingatkan kembali saya akan hal hal yang membuat apakah saya layak
untuk menerima perjamuan kudus atau tidak. Apakah saya mampu untuk memaafkan mereka
yang mungkin salah sama saya, ataupun apakah saya cukup berani meminta maaf
pada orang lain yang mungkin hatinya terluka saya buat.
Ada masa saya membuat
rasionalisasi, akan segera melakukan tindakan hal hal yang tampak “tidak ada
masalah” setelah saya perjamuan kudus. Saya berniat hal ini dilakukan, NAMUN
setelah memaksa kaki untuk maju ke depan altar gereja, dan memaksakan diri
menerima perjamuan kudus, setelah saya kembali ke tempat saya, saya kembali
tersadarkan bahwa, bukan dengan menampilkan perilaku “tidak ada masalah” maka
masalah akan selesai. Saya terduduk dan sedikit termenung sebelum salah satu
jemaat menyapa saya untuk berbincang-bincang. Maka saya putuskan untuk tidak
melakukan apapun yang membuat saya akan menodai perjamuan kudus yang telah saya
terima.
25 Desember 2016. Hari dimana
saya kembali diingatkan, dihantam, dihujam, dan akhirnya pemikiran saya dirobek
robek. Saya mendengarkan kotbah pendeta inang sirait. Dia sangat menjelaskan
bagaimana manusia menjadi rusak oleh “keserakahannya sendiri” dan bagaimana
TUHAN telah berulang kembali member pengampunan. Dalam kotbah tersebut, Tuhan
yang saya yakini di perjanjian lama telah melakukan tindakan amarah besar untuk
menghukum umat yang berbuat dosa dengan air bah (kalau saya diposisi TUHAN,
mungkin memulai dari 0 penciptaan dan manusianya adalah tindakan tepat tapi
ternyata masih diberikan kesempatan keluarga NUH).
Namun IA kembali membuat
perjanjian untuk dirinya sendiri dengan membuat sebuah pengingat bahwa IA tidak
akan menghukum manusia itu. SAYANGNYA MANUSIA kan sesukanya, jadi berbuat
anarkis, agresif dan segala keserakahannya, Tuhan yang saya yakini malah
mengorbankan diri melalui wujudnya sebagai MANUSIA, yang saya yakini disalibkan
( kalau dari sisi kemanusiaan saya, boro boro uda dimaafkan, masa gue yang
salah malah mengorbankan diri untuk orang yang bersalah sama gue). TAPI INILAH
YANG MENJADI HAL SAKIT BAGI SAYA.
Belum lagi ketika pendeta
tersebut mengatakan “ mari ambil waktu sejenak 5 detik untuk memikirkan orang
orang yang telah menyakiti hati kita, dan mengatakan aku telah memaafkan “ Saya
punya rekaman ini dan sambil merekam, saya pura pura mengucek mata sendiri
dengan tujuan agar tidak terkesan menangis. Saya mengangkat kepala saya sambil
mengelus dada sejenak. Pengalaman akhir akhir ini yang dikecewakan secara
beruntun pada anak anak didik saya, membuat saya sangat menyutujui perkataan
pendeta. “ BAHWA NATAL ADALAH PENGAMPUNAN “, NATAL ADALAH CARA TUHAN MENGOBRAK
ABRIK PEMIKIRAN MANUSIA. Saya kembali diingatkan bahwa Bukan pemikiran saya
dengan kemanusiaan saya yang berlaku untuk manusia, Tapi ada porsi TUHAN
sebagai penentu dan Pemilik Kehendak
Absolut.
Sudahkah saya memaafkan? Saya
rasa, saya yang manusia biasa ini perlu waktu untuk memaafkan dan saya berusaha
akan memaafkan pada waktunya. Semoga saja. Ya Semoga saja dalam Waktu TUHANku.
17 Desember merupakan hari yang akan sangat saya ingat dalam
bentuk kekecewaan, dan Amarah.
Saya dikecewakan oleh kesalahan yang sama dan berulang dari
mereka yang kukasihi.
Saya bahkan sempat membandingkan diri saya untuk
mengevaluasi diri saya pribadi.
Apakah saya tidak cukup untuk memberikan didikan?
Apakah saya menerapkan hal yang salah?
Atau
Memang saya, Tidak Pantas untuk mereka yang kukasihi.
Begitu banyak rencana untuk mengembangkan mereka, begitu
banyak ide untuk rancangan masa depan mereka selama mereka dalam bimbinganku.
NAMUN INI WAKTUNYA UNTUK SEJENAK DIAM.
Sisi akademis, merencanakan sampai perijinan perusahaan
(bahkan sudah lampu hijau dari perusahaan, tinggal pelaksanaan dan surat
menyurat).
Sisi non akademis, yang mereka sendiri rencanakan pun di
akomodir sampai menghilangkan kepentingan pribadi dan keluarga.
SEMUANYA BELUM BISA
TERJAWAB OLEH KEHENDAK DIRI DAN KEDUA TANGAN INI
Saya Kecewa, dan punya amarah besar.
Saya bahkan melakukan sesuatu diluar kebiasaaan saya.
Saya sengaja lari sore untuk mendapatkan cuaca hujan (saya
Tahu akan hujan dari prakiraan internet).
Setelah lari dan sampai ke merdeka walk, saya pun rehat
menanti detik detik hujan, lalu dengan sengaja berjalan menuju rumah dalam
kondisi hujan yang sangat lebat.
Bernyanyi sendiri dengan lirik “…ku ingin marah melampiaskan…
tapi ku hanyalah sendiri di sini…)
Sampai saya dikira orang gangguan (orang gila kata masy
umum). Berulang bernyanyi, berteriak kecil (ternyata masih ada rasa malu meski
hujan lebat… haha masih normal mungkin ya)
NAMUN
Mungkin sudah saatnya saya akan mengambil waktu sejenak
Ini momen akhir Tahun.
Saya kecewa dengan banyak hal, namun ternyata setelah mandi
Hujan saya mengingat kembali, terlalu banyak berkat yang sudah kuterima
sehingga tidak dapat kubandingkan dengan kekecewaanku.
Beban untuk membimbing mereka meski dibawa dalam doa
ternyata perlu memahami pula waktu dari TUHAN.